Skip to main content

Posts

Pasca Kampus dan Gaya Hidup

Sudah seharusnya dan sewajarnya pada masa post modern seperti sekarang kita merasakan masamasa pasca pendidikan, pendidikan formal khususnya. Karena pasca bangku sekolah sungguh banyak ladang ilmu yang masih perlu dicangkul, digali sari pati pelajarannya. Ilmuilmu praktis yang bisa langsung dipraktekkan dan seringkali langsung berdampak. Selain itu, pasca sekolah juga menjadi ladang, bagi merekamereka untuk mencangkul dan menanam harapan, menumbuhkan semangat dan menuai hasilnya, yg tidak hanya sendirian menikmatinya, tapi untuk bersama. Idealnya begitu. Tapi setelah menapakinya, tenyata masih hutan belantara, ladang yg ideal belum ditemukan. Ada beberapa kemungkinan, kita terjebak dan tersesat tanpa pernah membuat ladang itu terwujud, atau kita terpaksa menumpang ladang orang, menjadi follower saja. Atau pilihan yg kebanyakan millenial menyukainya adalah menjadi orang yg membuka lahan sendiri. Tapi ini berat kawan. Tapi bukan mustahil. Banyak sekali semak menyesatkan, lumpur pengh...

Last Night at Pempek Factory

Pempek dan Palembang rasa-rasanya tidak dapat dipisahkan, huruf depannya saja sama, meski mungkin sebenarnya tidak ada hubungannya. Lebih dari 10 Bulan menjadi bagian dari skrup-skrup Kota terbesar kedua di Bumi Andalas ini menyisakan banyak pengalaman dan pembelajaran. Kalau katanya patah hati yang paling sakit adalah ketika: Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, hilang pas lagi cinta-cintanya, maka hampir seperti itu yang dirasa, karena sudah mulai nyaman dengan udaranya, dengan sekitarnya, telah berdamai dengan kulit yang menghitam, dengan debu yang lebih mrnrmpel dibandinkan sisa-sisa kerak sabun, dengan bau karet dan bau badan sendiri, dengan air gambut dan warna kopinya, sudah berdamai. Tapi memang, sebuh lompatan butuh pemicu dengan cara turun dahulu, kalau tidak begitu tidak terpacu dan melaju, harus berhijrah lagi, bismillah. Kita lanjut perjalanan ke Bogor esok. Terimakasih Sumatera Selatan dan hiruk senyap di dalamnya, sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

Pa, Pulang

Ramadhan tentu saja menjadi oase ditengah gurun 11 bulan duniawi. Tentu saja, rahmat, taufiq, hidayah, ampunan berlimpah dan di’diskon’ kepada siapa-siapa yang mau. Kalau diskon baju saja pada berebut, kenapa ini tidak. Sungguh sayang tentunya kan?. Bebicara tentang baju diskon, tentu tak lepas dari baju baru, akrab juga dengan ‘pelengkap’ ketika Lebaran, puncak dan perayaan setelah ramadhan penuh perjuangan (paling tidak seharusnya begitu). Hati baru yang telah dipermak selama masa pengeblengan bernama Ramadhan ini di’perkakas’kan berupa kebendaan serba baru, sebutlah baju, sepatu, sandal, sarung, kebaya, setelan seragam sekeluarga, bros, kerudung atau tetek bengek lainnya, kalau TIDAK, maka bukan lebaran namanya. Rasa-rasanya sentimen ini begitu melekat di benak kita, mungkin karena dari kecil kita sudah dididik, dicontohkan hal-hal kebendaan ini. Saya ingin mengatakan, tidak salah dengan barangbarang baru itu, jika darinya muncul kecintaan, muncul kebanggan akan sebuah ke...

Worklife #1

Diri dibuat dari Harapan, Doa, Takdir, Usaha dan Sepucuk rasa Manis Photo: Pembibitan Kebun Raya Sriwijaya

Kamu Menanggung, Aku Menjawab Saja

Kamu Menanggung, Aku Menjawab Saja... Dia berkelit, dan berkelakar. Enak saja, padahal mengerjakannya bersama... -------------------- Tentang menanggung dan menjawab, mereka bertemu dalam mahligai bernama Tanggung Jawab. Dan ini nih, salah satu poin penting belajar menjadi dewasa. Sudah menjadi pemahaman kita bersama, jika umur bukanlah patokan utama seseorang disebut telah dewasa. Dalam kenyataannya membuktikan dan kita dapat menyaksikannya sendiri, ada orang yang telah berumur 120 kali panen jagung, tapi kelakuannya mirip-mirip jagung baru tumbuh rambutnya. Juga kita melihat, anak-pianak kecil yang menunjukkan sikap-sikap yang membuat kita tercengang. Umur bukan satu-satunya penilaian orang sudah dewasa atau belum. Salah satu ciri dan karakter yang dimiliki oleh orang yang telah dewasa adalah bertanggung jawab. Apa yang ditanggung dan apa yang dijawab?. Buya HAMKA menyatakan, setiap orang memiliki hak yang diiringi kewajiban. Hak paling mendasar manusia adalah hidup. Bar...

Akhir Sebuah Negeri

Saya ngeri sendiri membayangkan tentang berakhirnya sebuah negeri, bukan detik ketika negeri itu berakhir, bukan. Tetapi menuju akhirnya, sakitnya sebuah negeri yang akan mati, itu yang lebih mengerikan untuk dibayangkan. Tiap sore kamu menyaksikan bocah kecil riang berlarian menuju mushola untuk ngaji A Ba Ta, mengeja bahasa Al-Qur’an, dan sekarang hilang. Tiap pekan kamu melihat, juga terlibat, diacara carfree day yang diadakan di jalan protokol kotamu, tapi sekarang tinggal puingpuingnya, orang terlalu takut untuk keluar rumah, meski didalam rumahpun mereka masih saja merasa ketakutan sebenarnya (tidak ada pilihkan). Jika sudah begitu, jangan dengan lancangnya kamu membayangkan bisa jalan-jalan, menikmati hijaunya pegunungan, atau duduk-duduk malas di kedai fried chicken bonafit itu. Rasanya begitu egonya kita, membayangkan indahnya surga, tapi menciptakan neraka didunia, sakitnya lagi itu hanya untuk diri sendiri, orang lain entahlah. Apa tidak terbayang bagi kita, berapa sa...